| THE POWER OF FOCUS |
|
|
|
| Ditulis oleh fahrizal | |
| Wednesday, 14 May 2008 | |
|
Manusia ditakdirkan melewati fase-fase perkembangan dalam kehidupannya. Dalam proses itulah, manusia belajar menjadi makhluk seutuhnya, bukan hanya dari perspektif dirinya sebagai makhluk tetapi juga berdasarkan kehendak pencipta-Nya. Berbagai kemungkinan dan kesempatan untuk ”menjadi” ditempuhnya. Segala kemuliaan hanya milik Allah. Dialah yang maha pemberi petunjuk (al-haadii), pemberi kelapangan (al-baasith) dan kesempitan (al-qaabith) dalam setiap urusan hamba-Nya. Tak satu urusan pun di atas dunia ini yang dapat berlangsung tanpa petunjuk dan kesempatan yang diberikan-Nya. Kepada-Nyalah kita kembalikan niat, gerak, dan hasil kerja kita.Manusia ditakdirkan melewati fase-fase perkembangan dalam kehidupannya. Dalam proses itulah, manusia belajar menjadi makhluk seutuhnya, bukan hanya dari perspektif dirinya sebagai makhluk tetapi juga berdasarkan kehendak pencipta-Nya. Berbagai kemungkinan dan kesempatan untuk ”menjadi” ditempuhnya. Subhanallah, dialah Allah, pencipta dan pemelihara manusia. Demi proses penciptaan semesta yang tidak satu pun sia-sia, manusia dalam proses untuk ”menjadi” telah dibekali sejumlah potensi. Seluruh potensi itulah yang akan menjadi wasilah bagi setiap manusia menggenapkan tujuan dan misi suci penciptaannya di dunia. Tetapi, justru karena begitu beragam potensi yang diberikan Allah, tidak semua manusia berhasil mengaudit dirinya dengan komprehensif untuk menemukan ”track yang tepat” untuk ”menjadi”. Sebagian besar manusia ”asyik” dengan sejumlah hal yang pada dasarnya tidak banyak berhubungan dengan misi penciptaannya. Atau kalau pun dia menemukan tracknya, dia tidak benar-benar mensyukurinya sebagai sebuah jalan yang diberikan Allah sehingga dia melakukannya sebagai sebuah ”kewajaran” belaka, tanpa menghadirkan seluruh perhatian dan nilai kemanusiaannya. Hasilnya? Apa yang bisa diharapkan dari sebuah pekerjaan sambil lalu? Padahal, Allah telah berfirman: ”Mereka itulah orang-orang yang mendapat nashib dari apa yang telah mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS. Al Baqarah [2]:202) Quraish Shihab (Tafsir Al-Mishbah, 2006) mengatakan, bila kita berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ”mereka” adalah siapa pun, maka yang dimaksud ”apa yang telah mereka usahakan,” adalah usaha-usaha baik yang mereka lakukan dalam rangka meraih apa yang mereka inginkan itu, yakni memperoleh hal itu bukan sekadar ketulusan berdoa dengan lidah tetapi juga disertai kesungguhan dalam bekerja dan kesucian akidah. Doa harus disertai dengan usaha. Pertolongan Allah baru datang setelah usaha maksimal diupayakan. Bukankah usaha maksimal yang dimaksud di atas adalah sebuah kondisi ketika seluruh daya pikir dan gerak dikonsentrasikan pada satu titik pekerjaan yang sedang kita hadapi. Bila memang Anda sepakat dengan pemahaman seperti itu, berarti usaha maksimal yang diupayakan adalah kata lain dari fokus. Allah mengajarkan manusia untuk fokus, salah satunya melalui Asy-Syarh: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS. Asy-Syarh [94]: 7-8). Shihab mengatakan bahwa ayat di atas menuntut kita memiliki kesungguhan bekerja diiringi dengan harapan dan optimisme akan kehadiran bantuan Allah. Dengan kata lain, ayat ini memerintahkan manusia untuk melakukan aktivitas apa saja dengan kesungguhan, tetapi tentunya hanya berharap kepada pertolongan Allah. Sayyidina ’Umar Ibn al-Khaththab ra., pernah berkata:”Saya benci melihat salah seorang dari kalian menganggur, tidak melakukan suatu pekerjaan yang menyangkut kehidupan dunianya, tidak pula kehidupan akhiratnya.” Ayat 7 surat Alam Nasyrah ini memberi petunjuk bahwa seseorang harus selalu memiliki kesibukan. Bila telah berakhir suatu pekerjaan, ia harus memulai lagi dengan pekerjaan yang lain, sehingga ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Seorang muslim wajib hanya berharap dan menyandarkan diri kepada Allah: Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah [9]: 24) Perintah untuk berusaha dan bekerja disebut terlebih dahulu (ayat 7) baru setelah itu perintah untuk menggantungkan harapan kepada Allah swt (ayat 8). Artinya, usahalah yang harus diupayakan terlebih dahulu baru kemudian mencurahkan harapan kepada Allah swt. Usaha dan doa harus selalu hadir simultan dalam hidup setiap muslim. Allah memang memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat memikirkan (atau bahkan melakukan) sejumlah pekerjaan dalam satu rentang waktu. Meskipun demikian, memikirkan (atau melakukan) sejumlah pekerjaan dalam satu kurun waktu adalah sebuah pilihan. Pilihan terbaik sebenarnya adalah bagaimana mendapatkan hasil terbaik dari usaha terbaik. Hal yang seperti itu hanya akan diperoleh melalui pemusatan potensi pikir dan tenaga hanya pada satu pekerjaan dalam satu kurun waktu. Inilah yang oleh banyak orang disebut fokus. Berfokus pada dasarnya adalah melipatgandakan kekuatan potensi pada satu titik tujuan. Orang yang sudah menemukan fokus adalah mereka yang tidak ingin tergoda untuk memikirkan dan melakukan banyak hal yang tidak berhubungan langsung dengan tujuan besar yang telah dicanangkannya sebagai tujuan penting hidupnya. Dia sadar, semakin banyak hal yang dipikirkan dan dikerjakan pada satu rentang waktu, dia tidak akan memperoleh hasil maksimal. Setengah-setengah. Besar kemungkinan hasilnya tidak memuaskan, bahkan bisa jadi cenderung asal-asalan. Bukankah kita ini khalifah Allah? Apa jadinya bila hasil kerja seorang khalifah, wakil Allah di bumi, hanya asal-asalan? Apakah kita tidak malu telah diberikan seluruh potensi untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan misi penciptaan kita?
The Power of Focus If you want to get manything finally you get nothing! Begitu sejumlah motivator menasihati kita. Kita tidak mungkin jago di segala bidang. Bila kita baca sejumlah biografi orang sukses, pasti kita akan menemukan bahwa mereka sukses karena berfokus. Kalau pun mereka sekarang dikenal sukses dalam berbagai bidang, tentunya ketika mengawali karirnya, mereka fokus pada satu bidang. Suksesnya dalam bidang-bidang lain tentunya merupakan penyempurnaan dari replika sukses mereka di bidang awal. Ada analogi sederhana tentang kekuatan fokus ini di antaranya adalah yang sebenarnya sering kita jumpai di sejumlah tayangan televisi, yaitu tentang seekor cheetah atau singa memburu sekawanan rusa yang akan menjadi mangsanya. Bila seekor cheetah atau singa menginginkan seekor rusa, dia akan mengintai dari kejauhan sekawanan rusa yang sedang merumput atau minum di oase. Dia tentukan satu pilihan. Setelah yakin waktunya tepat, dengan seluruh tenaga dan kemampuan yang dimilikinya, sang pemburu akan menampakkan diri, berlari mengejar sasarannya, dan yang dikejar hanya seekor rusa yang memang telah diincarnya. Dia hanya fokus pada seekor rusa saja. Anda pasti setuju, apabila sang cheetah atau singa itu tidak memfokuskan perburuannya hanya pada seekor sudah dapat dipastikan dia tidak akan memperoleh tujuannya. Saya pernah menyaksikan hal itu, manakala sang pemburu kehilangan fokus, justru dia tidak memperoleh apa-apa. Rusa-rusa itu pun menemukan kekuatannya untuk berlari sekuat tenaga menghindari mimpi buruk mereka. Tetapi, coba kita lihat, bila sang pemburu hanya mengincar satu ekor dari belasan ekor rusa di padang rumput itu, bila bernasib baik, dia akan berhasil mendapatkan santap siangnya yang lezat. Kita pun tidak jauh berbeda. Peluang yang kita miliki berdasarkan potensi tidak terbatas. Kita merasa dapat melakukan banyak hal. Ini bisa, itu bisa. Nampaknya, sejumlah kesempatan bersliweran di depan mata. Berbagai iming-iming pada banyak hal membuat kita semakin sulit mengendalikan tujuan. Analoginya begini. Saya ingin mengajak Sahabat semua sedikit mengingat masa ketika di sekolah dasar atau sekolah menengah. Masa itu, kita umumnya senang olah raga. Diajak main sepak bola, ayo. Diajak main basket, bisa. Diajak main bulu tangkis, berangkat. Diajak main ping pong (tenis meja), OK. Tetapi pertanyaannya, manakah dari kesemuanya yang pada akhirnya benar-benar kita kuasai? Berani jamin, bila memang tidak kita pilih satu, pasti tidak ada yang menonjol. Kemampunan kita pasti hanya rata-rata saja. Betul, kan? Nah, bila ditanya, apakah Taufik Hidayat, sang Pebulutangkis itu, bisa bermain basket atau sepak bola? Tentu jawabnya, bisa. Dia akan bermain seperti umumnya kita yang tidak menekuni dua bidang itu. Kita tidak boleh berharap akan menyaksikan Taufik bermain secantik Ronny Gunawan atau Bambang Pamungkas. Tetapi, coba ajak dia bermain bulu tangkis. Dia akan menunjukkan kelasnya, karena memang dia fokus di situ. Kita umumnya tergoda untuk menjadi seorang generalis meski dengan pemahaman minimalis. Bukankah dalam dunia akademik pun kita mengenal spesifikasi (baca: pemfokusan)? Dalam bidang kedokteran, misalnya. Lulus fakultas kedokteran, seseorang belum langsung menjadi dokter, dia baru Sarjana Kedokteran (S.Ked). Untuk menjadi seorang dokter (umum) dan boleh praktik, dia harus menempuh pendidikan lagi selama 2 tahun. Nah, bila ingin menjadi dokter anak, misalnya, dia harus kuliah lagi selama 4 tahun. Bila ingin lebih ahli, dia harus kuliah subspesialis selama 6 bulan hingga setahun. Cukup lama, bukan? Semakin lama belajar, seseorang semakin spesialis bukan semakin generalis. Orang yang fokus adalah orang yang menguasai bidangnya. Orang yang menguasai bidangnya adalah seorang ahli. Seorang ahli sudah pasti diperlukan. Di mana pun. Untuk menjadi seperti itu tentunya diperlukan sebuah kesungguhan dan kedisiplinan. Masih ingat cerita tentang Ibnu Hajar Asqalani? Dalam perjalanan belajarnya, ulama besar ini pernah mengalami pasang surut motivasi. Hingga pada satu kesempatan, beliau menemukan fenomena menarik. Ada sebongkah batu besar yang tengahnya berlubang. Setelah diteliti, ternyata dari atas batu besar itu meluncur air, setetes demi setetes, jatuh pada titik yang sama untuk waktu yang begitu lama. Akhirnya, meskipun secara kasat mata zat batu lebih keras daripada air, akhirnya batu itu pun berlubang. Ulama kita ini merenung, mencoba mengambil i’tibar dari fenomena alam tersebut. Beliau percaya, Allah pasti punya maksud mengapa fenomena itu dihadirkan di hadapannya. Beliau berpikir, otaknya tidak sekeras batu, bila ia mau konsisten, seperti air yang menetes untuk waktu yang lama, tidak mustahil ia akan berhasil. Berdasarkan i’tibar itulah, beliau kembali menekuni pelajarannya. Akhirnya, beliau berhasil menjadi salah seorang ulama penulis hadits yang terkenal dengan salah satu karyanya, Bulughul Maram. Begitu dahsyat impact sebuah fokus. Motivasi, semangat, dan impian menemukan maknanya justru ketika ketiganya berkolaborasi sepenuhnya dengan kesadaran satu titik tujuan dalam baju kedisiplinan, kesungguhan, dan kegigihan. Siapa pun yang sampai hari ini belum menemukan fokus hidupnya, sangat boleh jadi dia akan kehilangan masa-masa keemasan dalam singkatnya waktu.
Fokus pada kekuatan "You must invest most of your time every week doing what you do best, and let others do what they best," begitu tulis Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Les Hewitt dalam The Power of Focus (2006). Kita diajak untuk melakukan hal-hal yang kita kuasai dengan baik dan tidak ambil pusing ketika orang lain melakukan yang mereka kuasai. Tidak sedikit orang yang hanya sibuk dengan memikirkan kelemahan-kelemahannya (atau bahkan kelemahan orang lain?). Meskipun bukan sebuah kesalahan, tetapi bisa jadi mereka akan luput melihat bahwa dirinya memiliki sejumlah kekuatan yang lebih berhak dan pantas diperhatikan dan dikembangkan. Apa jadinya dunia ini bila penghuninya lebih banyak menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya dengan meratapi dan menutup-nutupi kelemahannya tanpa menyadari kalau yang akan menjadi catatan sejarah adalah aktualisasi dari kekuatan-kekuatan yang dimilikinya? Sejarah peradaban manusia pada hakikatnya adalah pencapaian-pencapaian umat manusia lewat kerja sebagai manifestasi seluruh potensi positif mereka. Justru kelemahan manusia pada gilirannya hanya akan menjadi antitesis dari sejarah perabadan itu sendiri. Lucio A Noto, Vice President Exxon Mobil (perusahaan multinasional dengan jumlah karyawan melampaui angka 100.000, pendapatan US$ 200 miliar, dan daerah operasi di 140 negara), memiliki rahasia sukses menarik. Beliau mengatakan, bila seseorang ingin sukses dalam bisnis, salah satu yang penting adalah dia harus fokus pada kekuatan. Beliau percaya, setiap orang punya kekuatan dan kelemahan. Seorang pebisnis perlu mengenalinya, kemudian memfokuskan semua energi, waktu dan sumber daya pada kekuatan. Dengan demikian, ia tidak akan membuang waktu dengan melakukan sesuatu yang kurang dikuasai. Ada baiknya apa yang dikatakan Lou kita jadikan sarana introspeksi. Sahabat, bila saja kita tekun mengaudit kompetensi diri, baik dengan intens menilai bidang apa saja yang kita kuasai maupun memperhatikan dengan serius penilaian orang-orang terdekat kita, insya Allah kita akan menemukan keunggulan kita. Inilah pintu masuk untuk memaksimalkan kekuatan yang kita miliki. Memang, dalam banyak kesempatan tidak sedikit teman-teman yang masih saja terbebani untuk selalu melihat kelemahan-kelemahan diri. Hal ini memang tidak merupakan kesalahan fatal, tetapi setidaknya kondisi ini menimbulkan sejumlah hal. Pertama, kita jadi kurang yakin dengan keunggulan yang kita miliki. Bahkan tidak jarang nampak jadi kurang percaya diri, bahwa bila keunggulan kita adalah unik dan akan menjadi sesuatu yang dahsyat bila diketahui sejak awal dan dikembangkan maksimal. Kedua, kekurangyakinan kita dengan kekuatan sendiri pada gilirannya boleh jadi mempengaruhi penilaian orang terhadap konsep diri kita sendiri. Bukankah akan menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan bila orang lain telah memberikan label buruk terhadap kepribadian kita? Ketiga, melihat kelemahan diri boleh-boleh saja. Itu manusiawi, bahkan sejumlah teman mengatakan ”harus” agar kita tidak menjadi sombong. Tetapi yang ingin saya katakan di sini adalah tidak jarang dengan dalih selalu melihat kelemahan diri justru yang menjadi keunggulan kita luput untuk dilihat dan dikembangkan. Padahal, waktu yang diberikan Allah swt untuk kita terbatas. Bila dalam rentang usia yang tersedia kita masih saja disibukkan dengan melihat sejumlah kelemahan diri kita, bukan tidak mustahil kita akan kehabisan waktu dan gagal menemukan serta mengembangkan keunggulan kita. Bukankah ketidakberhasilan kita menemukan keunggulan diri tidak jauh berbeda dengan kegagalan kita ”menjadi utuh” seperti yang diniatkan Allah swt ketika menciptakan kita sebagai hamba dan khalifahnya yang mulia? Allah telah mengingatkan kita melalui firman-Nya: ”Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. ". (QS.Al Insyiqaaq [84]: 6) Shihab memandang bahwa dalam bekerja, manusia pada dasarnya melihat hari esoknya, bahkan masa depan, baik singkat maupun lama. Semuanya dilakukannya hingga tiba waktunya bertemu dengan Allah swt. Atas dasar ikhtiar yang semakin hari makin kita sempurnakan, mari lakukan yang terbaik sesuai fitrah penciptaan kita sebagai manusia, yaitu sebagai hamba dan khalifah-Nya. Nampaknya hanya dengan itulah kita bisa membuat Allah swt tersenyum menerima kita kembali keharibaan-Nya. Wa Allah A’lam bish-shawab.
Depok, Awal Rajab 1428 H/Juli 2007 Penulis adalah Direktur MHMMD Training Center.
|
| < Sebelumnya |
|---|
|
“Sukses Bangsa adalah akumulasi Sukses Individu” |
|
THE POWER OF PLANNING
|
|
|
| Syndicate |
|---|
| Silaturahim |
|---|
|
Latest Message: 4 minutes ago
You have to login before you can shout! |





Segala kemuliaan hanya milik Allah. Dialah yang maha pemberi petunjuk (al-haadii), pemberi kelapangan (al-baasith) dan kesempitan (al-qaabith) dalam setiap urusan hamba-Nya. Tak satu urusan pun di atas dunia ini yang dapat berlangsung tanpa petunjuk dan kesempatan yang diberikan-Nya. Kepada-Nyalah kita kembalikan niat, gerak, dan hasil kerja kita.



