MHMMD Sebagai Solusi Pendidikan Alternatif Bagi Semua
Lawrence E Harrison dalam bukunya, “Who Prospers?” menuliskan bahwa bagi mereka (Negara) yang sejahtera pastilah memiliki kunci sukses yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak sejahtera. Bukan kekayaan alam yang dimiliki oleh negara tersebut sehingga membuatnya kaya dan sejahtera. Bukan juga warna kulit yang dimiliki oleh penduduknya. Bukan pula iklim yang meliputi wilayahnya. Ternyata sukses suatu bangsa adalah karena nilai-nilai budaya yang dianut oleh masing-masing penduduknya sehingga menjadi budaya nasional. Dalam buku ini ia menjelaskan bagaimana nlai-nilai budaya membentuk sukses ekonomi dan politik dan untuk itu kita bisa melihat salah satu contoh dari negara-negara maju seperti Jepang.
Jepang dengan kepercayaan yang dianutnya yaitu Religi Tokugawa, yang dicanangkan sejak era tahun (1600-1869) Sebelum Restorasi Meiji memiliki nilai-nilai budaya sebagai berikut :
- Hakikat Hidup: balas kebajikan, bayar hutang budi kepada langit, bumi, & manusia
- Ingat Mati: hargai kesucian, kebenaran, keadilan & kejujuran (samurai)
- Hormati Orang Tua (leluhur)
- Hidup Hemat
- Bekerja Keras
- Seimbang: Kepentingan Umum & Pribadi Kita bisa melihat betapa cepatnya pertumbuhan ekonomi Jepang pasca perang dunia ke dua yang telah dihancur leburkan oleh bom Atom Amerika tahun 1945. sejak itu Jepang mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk belajar ke Eropa Amerika untuk mempelajari tehnologi dan sains.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama Jepang pun bisa mengekspor produknya seperti mobil, komputer, televise dan produk elektronik lainnya membanjiri pasar Eropa Amerika. Kita bisa melihat mobil-mobil Toyota, Honda, Mitshubishi, Suzuki, Nissan, Hino, Daihatsu melintas di jalan-jalan utama di seluruh dunia. Juga produk-produk elektronik dengan merk Sony, Toshiba, Panasonic telah menghiasi rumah-rumah mewah di pelbagai negara di dunia. Itu baru sebagian kecil contoh dari sukses negara makmur yang bisa mensejahterakan penduduknya karena nilai-nilai positif dari budayanya. Pertanyaan yang sekarang harus diajukan adalah bagaimana nilai-nilai positif dari budaya penduduknya bisa lahir lalu dianut, dan dipertahankan secara berkelanjutan? Jawabannya adalah satu yaitu dengan melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusianya melalui pendidikan. Dengan pendidikan seseorang bisa naik derajatnya karena ilmu yang dimilikinya itulah yang membedakan dengan orang lain.
Dengan pendidikan, kehidupun seseorang maupun suatu bangsa akan menjadi lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengalami pendidikan. Namun disini juga kita harus mempertanyakan pendidikan yang seperti apa yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik. Apabila kita membaca salah satu buku dari Andreas Harefa, “Menjadi Manusia Pembelajar” maka kita akan senantiasa tersadarkan akan pentingnya proses belajar bagi diri kita. Menjadi manusia tidak akan menjadi sempurna bila ia belum mengalami proses belajar yang sesungguhnya. Belajar dalam artian disini bukanlah belajar dalam rangka menghadapi ujian semesteran di bangku sekolah dengan harapan nilai baik dan memperoleh kelulusan melalui ijazah yang diterima. Belajar disini berarti mengetahui suatu hal baru untuk menjadi bagian dari pengetahuan dan sikapnya dan menjadikannya sebagai bekal untuk menjalani kehidupan.
Proses belajar bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun. Ia tidak hanya bisa dilakukan di bangku-bangku sekolah formal, tapi proses ini bisa dilakukan di tempat-tempat umum, di lingkungan tempat tinggal, di tempat-tempat ibadah, di pusat bisnis dan perbelanjaan, di organisasi-organisasi dan dimanapun kita berada kita bisa mengambil pelajaran darinya. Dengan belajar kita tentunya memiliki bekal dan kesiapan dalam menghadapi pelbagai masalah yang datang menghadang. Belajar bukan hanya transfer of knowledge tapi juga ia merupakan transformasi berfikir, bersikap agar menjadi lebih baik lagi, menyempurna.
Maka berangkat dari visi pendidikan di atas, yaitu untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan tatanan masyarakat yang adil makmur sejahtera serta mampu memimpin peradaban baru bukan saja di Asia tapi juga di Dunia, maka Pelatihan MHMMD pun tercipta untuk mewujudkan Indonesia yang baru. Pelatihan MHMMD berangkat dari nilai-nilai serta pembiasaan-pembiasaan ppositif dari pengalaman Bunda Marwah ketika melalui proses menuntut ilmu khususnya di tingkat pendidikan tinggi.
Berasal dari sebuah desa di Kab, Sopeng Sulawesi Selatan, Bunda Marwah memiliki impian bagaimana bisa meneruskan studi hingga mencapai tingkat kesarjanaan tertinggi di Universitas Negeri terbaik di negeri ini dan bahkan sampai ke luar negeri. Akhirnya impian beliau bisa terwujud menyelesaikan S1 di Universitas Hasanuddin Makasar, dan S2 serta S3 di The American University Washington DC USA.
Pelatihan MHMMD diciptakan dengan target agar setiap pesertanya mampu mengubah pola hidup (sikap dan prilaku) dengan agenda-agenda yang akan membangun masa depan, mampu fokus dan menetapkan target di setiap aktivitas kegiatannya dan bisa memahami potensi esensial dalam dirinya sebagai sinergi untuk mengembangkan minat, bakat, dan prestasi belajar. Nilai spritual sebagai landasan hidup masing-masing peserta tentunya diutamakan agar meningkat. Selain itu kegairahan belajar mensukseskan berbagai kegiatan intra maupun ekstra di segala sektor meningkat dan peserta pun mampu menseimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi serta mempunyai visi dan misi dalam hidup serta mengelolanya sesuai potensi dirinya. Untuk itu semua di pelatihan MHMMD juga menerapkan metode Fun and Active Learning, Sharing Method, Presentation and Public Speaking, Outbond, Keseimbangan Otak Kanan dan Kiri, serta keselarasan antara Spiritual Qoution , Emotional Quotion, Intellectual Quotion dan Adversity Quotion. Dengan berbekal semua ini, maka pelatihan MHMMD sangat tepat untuk diikuti oleh seluruh praktisi pendidikan di semua level baik untuk pelajar, mahasiswa, dan guru.